elsamsi log

Menu

Tasbihnya Burung dan Doa Si Pawang Hujan MotoGP Mandalika

Tasbihnya Burung dan Doa Si Pawang Hujan MotoGP Mandalika

Bagian dari keunikan tersendiri dalam gelaran ajang MotoGP Sirkuit Mandalika, Lombok, Indonesiia beberapa waktu yang lalu adalah adanya pawang hujan. 

Keberadaan beberapa tokoh yang disebut sebagai pawang hujan sendiri sebenarnya juga bukan lagi hal yang asing di masyarakat Indonesia. Siapapun pelakunya. 

Namun, para netizen yang terdiri dari masyarakat beragam tak mahu ketinggalan tuk membahasnya. Mereka mencoba menggali dari sisi aqidah dan proses permohonan hujan. 

Dan salah satu yang dipermasalahkan oleh netizen terhadap praktik yang dilakukan oleh Bu Rara dalam even Internasional tersebut, adalah doa yang dipanjatkannya. Kepada siapa doa itu disampaikan? Kepada Allah SWT-kah, atau kepada selainnya?

Untuk menjawab akan hal inii, maka penulis mencoba untuk menelusuri hasil wawancara Tribunnews ke mbak Rara. 

Dari hasil wawancara itu, ada beberapa clue pernyataan yang menarik dari mbak Rara ini, misalnya: “Kita hanya ikhtiyar. Saya hanya berusaha menyatukan harapan dari semua orang dan memohonkan Kepada Allah SWT, Tuhan Hyang Widi Yasa.” 

Kemudian, berkaitan dengan instrumen yang digunakan berkenaan dengan dupa, wadah disertai dengan memukul, dan teriakan oooohhhh….”, ia menyampaikan bahwa itu ibaratnya sama dengan orang Islam saat waktu shalat, maka ada adzan, yang berarti memanggil. 

Berdasarkan pertimbangan akan kedua hal itu, lantas apakah itu artinya bahwa doa mengalihkan hujan itu dipanjatkan kepada selain Allah SWT dan berbahu kesyirikan?

Syirik dalam literasi keislaman memang dimaknai sebagai menyekutukan Allah SWT dengan adanya tuhan selain-Nya. Syirik terjadi pada praktik ibadah, termasuk di antaranya apabila hal itu dilakukan saat berdoa. 

Namun, yang menarik adalah Mbak Rara mengatakan sebagaimana dalam petikan wawancara di atas, bahwa ia hanya diminta untuk melakukan ikhtiyar. Masalah sukses atau tidaknya terserah kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Sang Hyang Widi Yasa. 

Berangkat dari sini, selanjutnya dapat ditarik kesimpulan bahwa Mbak Rara pada dasarnya mengajukan doanya kepada Allah SWT, Dzat Yang Menguasai Alam, namun yang diucapkan dengan menggunakan bahasa ibu yang dipelajarinya. Mungkin saja, bahasa lantunan doa itu tidak menggunakan istilah Allah SWT, tetapi memiliki pengertian yang sama dengan istilah Dzat Yang Maha Mutlak dan Maha Berkehendak. Kalau Dia menghendaki maka terjadilah. Jika Tidak menghendaki maka tidak terjadi. Demikian, sekilas yang bisa diikuti oleh penulis dari menyimak beberapa hasil wawancaranya. 

Walhasil, permohonan itu tidak menyimpang dari agama Islam. Di dalam al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

ولِلَّهِ الأسْماءُ الحُسْنى فادْعُوهُ بِها وذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أسْمائِهِ سَيُجْزَوْنَ ما كانُوا يَعْمَلُونَ (١٨٠)

“Allah memiliki Asma-Asma yang Baik. Maka serulah kalian dengan nama-nama itu. Tinggalkanlah kalian terhadap orang-orang yang ingkar terhadap Asma-Asma tersebut. Kelak, mereka akan mendapatkan balasan atas apa yang mereka lakukan.” (Q.S. Al-A’raf: 180). 

Di dalam Kitab Tafsir al-Qurthubty, salah satu kitab tafsir yang dikenal sebagai Tafsir Fiqhynya, Imam al-Qurthuby menukil sebuah riwayat tafsir dari Muqatil dan ulama tafsir lainnya:

قالَ مُقاتِلٌ وغَيْرُهُ مِنَ المُفَسِّرِينَ: نَزَلَتِ الآيَةُ فِي رَجُلٍ مِنَ المُسْلِمِينَ، كانَ يَقُولُ فِي صلاته: يا رحمان يا رَحِيمُ. فَقالَ رَجُلٌ مِن مُشْرِكِي مَكَّةَ: ألَيْسَ يَزْعُمُ مُحَمَّدٌ وأصْحابُهُ أنَّهُمْ يَعْبُدُونَ رَبًّا واحِدًا، فَما بالُ هَذا يَدْعُو رَبَّيْنِ اثْنَيْنِ؟ فَأنْزَلَ اللَّهُ سُبْحانَهُ وتَعالى:«ولِلَّهِ الأسْماءُ الحُسْنى فادْعُوهُ بِها ١٨٠»

“Muqatil dan para mufasir lainnya mengatakan bahwa ayat ini (Q.S. al-A’raf 180) diturunkan karena ada seorang lakii-laki dari kalangan muslim berdoa di dalam sholatnya dengan menyebut “Ya Rahman, Ya Rahim”. Ucapannya ini didengar oleh seorang laki-lakii musyrik kota Mekah, lalu berkata: “Kata Muhammad dan para sahabatnya, bukankah mereka menyembah Tuhan yang Satu. Lantas mengapa kamu menyebut dua Tuhan tadi?” Lalu Allah SWT menurunkan ayat “Allah memiliki asma-asma yang bagus, maka berdoalah kepada-Nya dengan asma-asma tersebut.”

Walhasil, dengan mengikut pada riwayat ini, apa yang disampaikan oleh Mbak Rara di atas, sudah sejalan. Hanya saja, Mbak Rara menggunakan bahasa Ibu yang dimilikinya sesuai dengan yang dipelajarinya. 

Di dalam kitab Ghayah wa al-Talkhish Fatawi Ibnu Ziyad, terdapat penjelasan sebagai berikut:

وذكر ابن الفركاح عن الشافعي أنه إن كان المنجم يقول ويعتقد أنه لا يؤثر إلا الله، ولكن أجرى الله العادة بأنه يقع كذا عند كذا، والمؤثر هو الله عز وجل، فهذا عندي لا بأس به

“Ibn Farkah menuturkan riwayat dari Imam Al-Syafii bahwasannya jika ada seorang ahli nujum mengatakan suatu keyakinan bahwasanya Tiada sesuatupun yang bisa memberi pengaruh melainkan Allah SWT, namun Allah menaqdirkan berlakunya adat bahwasannya kejadian begini adalah akibat karena ini, sementara Dzat Yang Maha Memberi Pengaruh tetaplah Allah Azza Wa Jalla, maka hal semacam adalah tidak apa-apa.” (Juz 1 halaman 149).

Mencermati akan hal ini, apa yang disampaikan oleh Mbak Rara lewat beberapa hasil wawancara dengan Tribunnews, bahwasannya dalam keyakinan Si Pawang satu ini tetaplah segala sesuatu itu ada di bawah kendali Dzat Yang Maha Kuasa, maka dalam hemat penulis, hal itu menandakan terpenuhinya konteks ibarat sebagaimana yang disampaikan dalam Fatawi Ibnu Ziyad di atas.

Di sisi lain, seringkali Allah SWT berfirman di dalam Al-Qur’an bahwa burung-burung bertasbih, gunung, matahari, bulan dan bintang juga bertasbih kepada-Nya. Tentu maksud tasbih ini jika disampaikan dengan bahasa Arab adalah dengan mengucap Subhanallah. Pertanyaannya, apakah cara burung bertasbih itu juga dengan mengucap subhanallah? Sudah barang tentu tidak. Burung tersebut bertasbih dengan bahasa ibunya. Gunung, matahari, bulan, bintang dan laut, seluruhnya bertasbih. Tentu dengan bahasa yang hanya Allah SWT saja yang mengetahuinya. Wallahu a’lam bi al-shawab

Muhammad Syamsudin (Peneliti eL-Samsi)

Spread the love
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur

Related Articles

%d blogger menyukai ini: