elsamsi log

Menu

Uang dalam Kacamata Syariat

Uang dalam Kacamata Syariat

UANG

Uang merupakan sebuah alat tukar yang dipergunakan dalam jual beli. Alhasil, jual beli (bai’) merupakan landasan dasar dari mata uang. 

Dalam jual beli, meniscayakan ada dua barang yang dipertukarkan. Salah satunya menduduki sebagai harga (iwadl/tsaman), dan di sisi lain menduduki sebagai barang yang dihargai (mutsman/mabi’). 

BAHAN ASAL MATA UANG

Bahan asal mata uang adalah emas dan perak. Namun, karena asal dari munculnya mata mata uang adalah karena adanya perdagangan, maka bahan makanan juga turut dilibatkan sebagai asal dari mata uang. Mengapa? Sebab nenek moyang jual beli, sebelum ditemukannya emas dan perak adalah barter (mu’awadlah). 

Obyek yang paling dekat untuk dijadikan obyek transaksi barter, adalah bahan makanan, yang terdiri dari makanan pokok (al-qut), lauk-pauk (taaddum), obat-obatan (tadawiyah), buah-buahan (fawakih). Garam, masuk dalam kelompok taadum. Jahe, masuk dalam kelompok obat-obatan. Dan lain sebagainya. 

Ada yang perlu digarisbawahhi oleh para ulama, bahwa yang dimaksud dengan bahan makanan di sini adalah bahan makanan yang sering dikonsumsi oleh manusia. Adapun bila bahan makanan itu umumnya dikonsumsi oleh hewan atau oleh keduanya, maka tidak masuk dalam kelompok bahan makanan yang dipersyaratkan ini. Kecuali memang bahan makanan itu sering dikomsumsi oleh manusia. 

Dengan merunut nomenklatur dari pertukaran ini, maka asal dari bahan mata uang itu pada dasarnya ada 3, yaitu: emas, perak dan bahan makanan. Ketiganya kemudian disebut sebagai bahan ribawi. 

KEBUTUHAN ALAT PENYIMPAN KEKAYAAN

Seiring kebutuhan manusia dari hari ke hari semakin bertambah, maka manusia mulai berfikir tentang: 

  1. Bagaimana caranya menyimpan sebuah kekayaan?
  2. Bagaimana caranya bekerjasama saling menguntungkan dengan pihak lain yang memiliki keahlian berbeda?

Suatu misal yang ditamsilkan oleh Imamuna al-Ghazali di dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin. Tukang Kayu memiliki barang hasil keterampilannya dalam mengolah kayu menjadi perabot. Di sisi lain ada penjual baju yang membutuhkan perabot untuk memenuhi kebutuhan rumahnya. Ketika muamalah harus dibatasi dengan melakukan barter, maka Tukang Kayu dan Penjual Baju akan bersepakat melakukan tukar-menukar antara baju dan perabot kayu. 

kelemahan dari muamalah barter ini, di sini tampak, yaitu kadang kala pihak tukang kayu tidak membutuhkan baju baru lagi, sebab bajunya sudah banyak di rumah. Atau sebaliknya, kadangkala suatu kondisi juga memungkinkan terjadi, yaitu pihak penjual baju tidak membutuhkan perabot baru, sebab perabot lamanya masih utuh dan bagus di rumah. 

Sampai di sini kemudian timbul pemikiran: bagaimana caranya tukang kayu tersebut mendapatkan baju, tanpa harus lewat tukar menukar antara baju dan perabot hasil olahannya? Di sinilah kemudian timbul pemikiran perlunya ada wasilah pertukaran. Akhirnya timbul solusi, yaitu diciptakan dinar dan dirham. Bahan dasarnya adalah emas dan perak

DINAR DAN DIRHAM

Jika menilik dari bagaimana kerangka berfikir lahirnya dinar dan dirham itu sebagai mata uang (native coin), maka fungsi utama dari dibentuknya dinar dan dirham ini sebenarnya adalah:

  1. Sebagai wasilah perdagangan
  2. Sebagai unit penyimpan kekayaan
  3. Memiliki sifat yang berbeda dengan bahan fisik pembentuknya

Ketika dinar dan dirham masih berwujud sebagai emas dan perak, maka emas dan perak ini menempati unit sebagai aset dasar (ain). Namun, ketika emas dan perak itu sudah dibentuk menjadi dinar atau dirham (madlrub), maka keduanya berubah kedudukannya menjadi sebuah hasil produksii, atau kita kenal sebagai komoditas. 

Namun, karena dinar dan dirham itu terdiri atas sebesar emas dengan berat timbangan tertentu, dan kadar karat sebesar tertentu pula, maka nilai komoditas dinyatakan sebagai yang setara dengan nilai bahan. Jadi, andaikata beratnya itu kita sebut sebagai nilai (yaitu 1 dinar itu adalah setara dengan 4.2 gram), maka nilai karat adalah menempati kedudukan sebagai nilai bahan (yaitu: sebesar 22 karat). 

Alhasil, 1 dinar, bisa kita definisikan sebagai berikut: 

“1 dinar adalah “nilai uangseberat 4.2 gram, dengan “bahan dasar” terdiri dari “emas dengan kadar kemurnian 22 karat”

MATA UANG KERTAS

Melalui dialektika di atas, maka teorema dasar uang itu pada dasarnya memiliki adalah wajib memiliki 2 komponen, yaitu: 1) “nilai uang” dan 2) “bahan dasar penyusun”. Perhatikan kembali pada definisi dinar di atas! 

Sekarang mari beralih pada pemikiran bahwa bahan dasar uang adalah tetap berupa emas. Pertanyaannya, bagaimana jika nilai uang yang dinyatakan berupa emas seberat 4.2 gram itu kemudian dialihkan bentuknya sebagai kertas yang tidak bisa dipalsukan dan ditulisi 1 dinar? 

Jadi, Emasnya, ditaruh di tempat penyimpanan. 1 Dinar dalam bentuk kertas tetap dinyatakan mewakili emas seberat 4.2 gram emas dengan kadar kemurnian 22 karat. Dengan bekal kertas ini, kertas sebesar 1 dinar ini bisa digunakan untuk menagih emas sebesar 4,2 gram / 22 karat. Apakah hal ini ada landasan syara’nya?  Dan termasuk harta apakah kertas itu?

Jawabnya barangkali membutuhkan sedikit memutar otak. Kertas itu kedudukannya menyerupai surat untuk menagih emas dengan berat 4,2 gram dengan kadar 22 karat. Sampai di sini sudah fixed. Setiap tagihan, menandakan adanya utang. Dengan demikian, maka kertas itu termasuk harta ma fi al-dzimmah, yaitu surat yang memiliki sebuah jaminan. 

Karena setiap bukti penagihan itu menduduki sesuatu yang penting artinya, maka surat bukti penagihan ini bisa juga disebut sebagai maal duyun (harta berbasis tagihan utang). Syarat dari dibolehkannya menggunakan harta ini untuk dipergunakan dalam transaksi, adalah bilamana antara dua pihak yang melakukan pertukaran memiliki besaran nilai tanggungan yang besarannya adalah sama. 

Ketiadaan sama antara ma fi al-dzimmah yang ditukar dengan ma fi al-dzimmah penukar, menjadikan transaksinya merupakan transaksi ribawi. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Spread the love
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur

Related Articles

1 Comment

Avarage Rating:
  • 0 / 10
%d blogger menyukai ini: