elsamsi log

Menu

ViPlus dan Aplikasi Money Game berdalih Marketplace

ViPlus dan Aplikasi Money Game berdalih Marketplace

Viplus diisukan sebagai apliikasii penghasil keuangan terbaru, regenerasi dari Vtube. Konsep yang diusung adalah E-Commerce. Bagaimana masyarakat seharusnya bersikap terhadap kehadiran aplikasi semacam ini? Berikut ini adalah sekilas pedoman mengenali aplikasi tersebut, berdasarkan konsepsi Ekonomi Syariah. Simak selengkapnya!

Sekilas mengenal Apa itu Marketplace?

Secara leksiikal, yang dinamakan dengan marketplace adalah sama dengan pasar. Namun, karena konsep ini diusung berbasis media dariing, maka marketplace sering disebut juga sebagai pasar online atau bursa online

Karena mengusung konsep pasar, maka di dalam marketplace sudah pasti ada pihak yang berperan selaku penjual, dan sekaligus ada pembeli. Para penjual ini kemudian dikenal dengan istilah pelapak. 

Di dalam marketplace, juga meniscayakan adanya diskon promo. Diskon ini seringkali diperkenalkan sebagai cashback, poin dan koin. Ketiganya, merupakan harta digital, dengan catatan bahwa ada aset penjamin dibaliknya. 

Siapakah yang berperan selaku penjamin aset digital marketplace ini? Jawabnya sudah pasti adalah pihak yang memiliki platform. Jika marketplace itu adalah Bukalapak, maka pihak yang berperan selaku penjamin transaksi adalah manajemen Bukalapak. 

Bisa juga, penjamin itu terdiri dari pihak yang memiliki ikatan kerjasama dengan Platform pengusung tersebut. Mereka umumnya dikenal sebagai mitra. Alhasil, bila ada istilah Mitra Bukalapak, maka itu artinya pihak Mitra Tersebut bekerjasama dengan Bukalapak, dan memiliki relasi utang-piutang atau relasi jasa dan promosi dengan Bukalapak tersebut. 

Ketiadaan relasi antara Mitra dengan pihak Developer Platform (manajemen), menandakan transaksi tersebut adalah berbasis transaksi fiktif, sehingga hukumnya adalah haram karena alasan memakan harta orang lain secara batil. 

Jual Beli dalam Marketplace

Esensi dari diadakannya suatu marketplace, adalah di dalamnya terjadi praktik jual beli atau ikatan jasa. Sebagaimana diketahui, secara syara’, bahwa yang dinamakan dengan jual beli, adalah adanya pertukaran harga dan barang. 

Misalnya, anda membeli handphone lewat suatu marketplace. Ketika anda menyerahkan suatu harga, yang kemudian disertai dengan adanya pengiriman barang ke alamat yang anda sertakan, maka praktik ini adalah benar disebut sebagai jual beli. Akadnya dinamakan dengan istilah akad salam (pesan). 

Sebaliknya, adanya pengiriiman barang kepada anda, yang kemudian setelah barang itu anda terima, lalu anda mentransfer keuangannya kepada pihak penjual, atau menitipkannya ke pihak pengantar, maka akad ini dinamakan dengan akad jual beli tempo (bai’ bi al-ajal). Kita umumnya mengenalnya sebagai COD (Cost on Delivery). Hukumnya adalah boleh selagi tidak ada illat keharaman, dan wajib berlaku adanya khiyar. 

Baik jual beli salam maupun jual beli tempo, attau kredit, masing-masing adalah sah di dalam syara’ dan boleh dipraktikkan. Catatannya adalah adanya khiyar. 

Apa itu khiyar? Khiyar adalah opsi pembatalan atau melanjutkan akad. Jika pembeli setuju, maka akad jual belinya berlanjut. Namun bila pembeli tidak setuju dengan barang, maka akad jual belinya batal.

Tipu-Tipu Atas Nama Marketplace

Dengan mencermati konsepsi marketplace sebagaimana yang telah diuraikan di atas, maka hal yang paling mendasar dan harus kita pahami ketika berhadapan dengan aplikasi yang menawarkan sistem bisnis E-Commerce dan marketplace, adalah:

Pertama, anda harus bertanya: Apakah ada transaksii jual beli dan jasa yang haqiqi di dalam aplikasi tersebut? Bila di dalam aplikasi tersebut anda harus menyerahkan uang, sementara tidak ada barang yang dikirim ke alamat anda, maka itu artinya bahwa praktik tersebut bukanlah jual beli. Lebih tepatnya, adalah bahwa aplikasi tersebut telah menyaru sebagai marketplace atau e-commerce. Sebab, tidak ada barang dan harga yang saling bisa diserahterimakan. 

Kedua, umumnya aplikasi yang menyaru marketplace ini menyammpaikan semacam misi belanja dan menshare bukti telah melakukan misi di media sosial atau di aplikasi. Tujuan dari sharing dan menjalankan misi adalah agar mendapatkan poin yang dijanjikan oleh aplikasi. 

COntoh misalnya adalah Vito, Compass Apk, Share4Pay, Alimama Apk, dan sejenisnya. Semuanya telah menyaru menjadi sebuah marketplace dan melakukan bisnis dengan dalih e-Commerce. Padahal, transaksii yang dikembangkan adalah transaksi fiktif. Aslinya, para member itu dijebak untuk menyetorkan uang dengan dalih jual beli poin/harta digital dari melakukan transaksi fiktif tersebut. 

Jadi, anda harus faham dengan pola jebakan semacam ini. Dan jangan anda mengikuti alur permainannya, sebab mengikutinya adalah pada dasarnya anda sama saja dengan diarahkan untuk merampog harta orang lain dengan dalih jual beli poin digital itu. Padahal, sejatinya tidak ada satu aset penjamin pun di belakangnya Bagaimana ada aset penjamin, wong anda hanya melakukan transaksi jual beli secara fiktif. 

Menyambut Kehadiran ViPlus 

.Jika ViPlus memiliki konsep yang sama sebagaimana telah diuraikan di atas, maka itu artinya ViPlus adalah aplikasi baru dengan dalih yang sama, yaitu menyaru sebagai marketplace. Alhasil, hukum mengikutinya adalah haram syar’an jaliyyan. Wallahu a’lam bi al-shawab

Muhammad Syamsudin (Direktur Komnitas Lembaga Studi Akad Muamalah Syariah Indonesia – “eL-Samsi” dan Peneliti Bidang Ekonomi Syariah – Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur)

Untuk Konsultasi Muamalah, hubungi kami di tautan ini! Konsultasi Muamalah – El-Samsi (el-samsi.com)

Kontak Redaksi
Spread the love
Direktur eL-Samsi, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah PW LBMNU Jawa Timur

Related Articles

%d blogger menyukai ini: